Model Pembelajaran



Memilih model pembelajaran dalam kegiatan belajar-mengajar sangat penting dilakukan. Namun perlu dipertimbangkan model pembelajaran yang cocok diterapkan karena selaku guru harus memperhatikan keadaan siswa, karena siswa itu heterogen baik ditinjau dari segi inteligensi, daya nalar, bakat dansebagainya. Selain itu sifat materi bahan ajar, lalu media/fasilitas pendukung dalam pembelajaran dan juga dari faktor gurunya sendiri mampukah membawakan model pembelajaran yang dipilihnya itu.
Berikut ini ada beberapa model pembelajaran yang sering diterapkan sesuai dengan situasi dan kondisi  yang dihadapi.
1.      Model kontekstual (Contextual Teaching Learning)
Dalam model pembelajaran kontekstual ini siswa dituntut untuk aktif, ikut melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat tetapi harus mengembangkan kemampuan bersosialisasi. Dengan demikian pembelajaran kontekstual ini dimulai dengan tanya jawab secara lisan dilakukan secara secara terbuka, ramah yang terkait dengan kehidupan siswa. Dengan cara ini siswa dapat merasakan manfaat dari materi yang disajikan. Selain itu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Alur berpikir siswa menjadi nyata serta suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.
2.     Model koperatif (cooperatif learning)
Model koperatif adalah model pembelajaran secara berkelompok koperatif. Dimana siswa dibiasakan bekerjasama, berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, berbagi tanggung jawab dan tugas. Dalam model pembelajaran ini juga siswa berlatih untuk berinteraksi satu sama lain, melakukan komunikasi dan bersosialisasi karena koperatif adalah wujud dari hidup bermasyarakat sehingga siswa menyadari bahwa dalam kehidupan tidak ada yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan.
3.     Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning)
Hasil gambar untuk model pembelajaran
Model pembelajaran ini bertujuan melatih kemampuan siswa untuk menyelesaikan masalah yang mengarah pada kehidupan nyata siswa, selain itu dapat meransang daya nalar siswa. Kondisi yang harus tetap dipertahankan  adalah suasana yang nyaman, kondusif, terbuka, demokratis dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal.
4.    Model STAD (Student Team Achievement Division)
Ciri khas model pembelajaran ini adalah membentuk kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 orang dimana kelompok ini mendidskusikan bahan belajar LKS-modul secara bersama-sama (kolaboratif). Pembelajarannya dalam bentuk presentasi kelompok sehingga emungkinkan terjadi diskusi kelompok, kuis individual dan dibuat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. Dan pada akhirnya rekor kelompok/tim atau individual  diberikan penghargaan/hadiah.
5.     Model Jigsaw
Model jigsaw adalah model pembelajaran koperatif dimana kelompok dibentuk secara heterogen yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda membahas bahan ajar yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyaknya siswa dalam kelompok. Tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian /bahan belajar tertentu. Tiap kelompok bahan belajar sama membuat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerjasama dan diskusi. Setelah berdiskusi kelompok ahli kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, kesimpulan dan evaluasi sekaligus refleksi.
6.    Model Group Investigation
Model pembelajaran ini membuat kelompok heterogen dengan cara membuat tugas, merencanakan pelaksanaan investigasi. Tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu bisa di luar kelas, misalnya mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, banyaknya guru dan staf sekolah. Pengolahan data hasil investigasi, presentasi, kuis individual, membuat skor perkembangan siswa lalu mengumumkan hasil kuis dan memberikan reward (hadiah).
Itulah beberapa model pembelajaran yang bisa dicoba untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Semoga ada manfaatnya.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar